Dugaan Korupsi Dan Monopoli Proyek Di PDAM Tirta Wening Mendapat Sorotan Tajam Dari Para Penggiat Anti Koripsi

Buser Bhayangkara74,” Pemberitaan diberbagai media masa tentang permasalahan ditubuh BUMD milik Pemerintah kota Bandung yaitu di PDAM Tirta Wening mendapat sorotan tajam dari berbagai kalangan terutama dari kalangan aktivis penggiat anti korupsi baik lokal maupun nasional terlebih ketika terpampangnya spanduk dibanyak titik dikota Bandung yang bertuliskan *”Turunkan Dirut PDAM Kota Bandung”*, “Buka kembali dan usut tuntas kasus korupsi Cikalong”. Didalam spanduk tersebut tertulis juga nama lembaga yang bernama Front Pembela Bandung (FPB) sebagai penanggungjawab atas spanduk tersebut.

Kang Satria sebagai penanggungjawab atas pemasangan spanduk tersebut mengungkapkan kepada Wartawan juga kepada para awak media bahwa apa yang dilakukan tersebut merupakan bentuk kekecewaan dari lembaganya yaitu Front Pembela Bandung (FPB) atas Perpanjangan jabatan Dirut PDAM Tirta Wening yang seolah terlalu dipaksakan serta tidak transparan kepada masyarakat kota Bandung. Sebetulnya kami dari FPB sudah sejak jauh hari ingin mengadakan aksi demontrasi besar-besaran untuk menyikapi permasalahan di tubuh BUMD yang satu ini, namun berhubung adanya larangan dari pemerintah terkait wabah virus corona maka rencana aksi kami tersebut kami tunda hingga situasi pulih kembali serta mendapat ijin dari pihak kepolisian untuk melaksanakan aksi demontrasi. Yang pasti kami yakinkan bahwa agenda aksi tersebut pasti akan kami laksanakan, hanya waktunya saja yang hingga saat ini kami masih belum dapat tentukan ungkapnya.

Sebenarnya ada apa dibalik ini semua, masa DPRD kota Bandung tidak respon sama sekali terhadap perpanjangan tersebut. Lalu kerja anggota DPRD Kota Bandung itu apa saja hingga ada perpanjangan jabatan Dirut PDAM seolah mereka tidak mengetahuinya. Lalu dasar perpanjangan jabatan itu apa, benar itu merupakan hak preogratif Walikota namun kan ada mekanisme yang harus ditempuh dan harus transparan kepada masyarakat ungkapnya dengan kesal.

Kami juga sangat menyayangkan, Kota Bandung ini merupakan barometer gerakan anti korupsi di tanah air. Namun mengapa para penggiat anti korupsi pada diam semua, apakah mereka sudah pada masuk angin atau para penggiat sudah kebagian proyek hingga mereka bungkam dan pura-pura tidak tau, katanya dengan nada kesal kepada pewarta yang mewawancarainya dikawasan tamansari kota Bandung pada hari Rabu (25/03).

Kang Satria juga mengungkapkan bahwa FPB juga sangat berharap kepada para penggiat anti korupsi nasional yang berasal dari Kota Bandung kiranya bisa membongkar dugaan kasus korupsi di PDAM Kota Bandung terutama masalah proyek pengolahan air milik PDAM Tirta Wening yang berlokasi di cikalong dengan anggaran Rp.63 Milyar yang saat ini mangkrak serta adanya dugaan hilangnya beberapa aset milik PDAM Tirta Wening pada saat kepemimpinan Dirut yang saat ini dengan kerugian yang cukup besar. Oleh sebab itu FPB berharap kepada bang jahid (Mujahid Bangun.red) juga rekan-rekan lainnya yang merupakan penggiat anti korupsi nasional yang berasal dan lahir di Kota Bandung untuk ikut peduli terhadap permasalahan ini jika mereka cinta dan peduli terhadap kota Bandung pintanya dengan nada emosi dan kesal.

Apa yang disampaikan oleh kang satria tersebut langsung mengundang perhatian banyak kalangan terutama dari para aktivis penggiat anti korupsi baik lokal maupun nasional. Salah seorang yang langsung respon adalah mujahid bangun (Bang Jahid.red) yang merupakan salah seorang penggiat anti korupsi nasional yang berasal dari kota Bandung dan terkenal getol dalam membongkar kasus mega korupsi di tanah air. Bang Jahid sangat merespon dan menyatakan siap untuk bersama-sama membersihkan kota Bandung dari praktek-praktek korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Hal tersebut disampaikan oleh bang jahid melalui sambungan telepon seluler miliknya pagi ini (25/06) disela kegiatannya di Jakarta kepada para wartawan dan awak media yang mencoba mewawancarainya melalui sambungan selulernya. Namun kan kita tau kondisional saat ini dengan wabah virus corona, semua aktivitas kita kan dibatasi oleh pemerintah jadi untuk menyikapi desakan dari rekan-rekan FPB juga belum bisa ditindaklanjuti secara maksimal. Bukan berarti saya tidak mau melakukan pendampingan terhadap kang Satria maupun rekan-rekan dari FPB. ini semata-mata hanya terkendala adanya himbauan dari pemerintah terkait Wabah Virus Corona. katanya dengan nada bercanda.

Selanjutnya melalui sambungan seluler, bang jahid menyampaikan bahwa sebagian data atas apa yang disampaikan oleh rekan-rekan dari FPB telah ada padanya dan hanya tinggal melengkapinya saja serta butuh sedikit data lagi agar resume pelaporannya dapat disusun dan dilaporkan secara resmi ke KPK maupun ke Kejaksaan Agung RI, ungkapnya.
Malah beberapa waktu yang lalu kami juga telah menerima data adanya dugaan aset milik PDAM Tirta Wening yang hilang dan berpindah tangan ucapnya.

Namun perlu juga saya sampaikan bahwa ketika saya turut menyikapi apa yang disampaikan oleh rekan-rekan dari FPB itu tidak ada unsur politik atau suka dan tidak suka namun semua itu murni karena penegakkan supremasi hukum semata. Jadi saya tidak ingin jika nanti saya ikut menyikapi atau menindaklanjuti desakan dari FPB tersebut dikait-kaitkan dengan kepentingan politik atau kepentingan kelompok tertentu. sekali lagi saya sampaikan bahwa ini merupakan bentuk kepedulian terhadap pemberantasan korupsi ditanah air juga demi penegakan supremasi hukum tegasnya sambil mengakhiri wawancaranya terhadap para wartawan juga awak media melalui sambungan selulernya.

( IW )