HUSEIN RIZAL dan PENCAK MAENPO DI BOGOR

Bogor – Buser Bhayangkara

Daerah Bogor memiliki kekayaan khasanah Kekayaan Budaya Luhung *Kerajaan Padjadjaran Jawa Barat.* Para pendekar dunia persilatan semakin semarak dengan aneka warna khas jurus jurus hebat dan ampuh untuk di bawa ke ranah pertarungan sejati. Jurus jurus asli yang turun temurun masih asli diwariskan ke para murid dan keluarga dari sang guru pendekar. Walau jarang terlihat di gelanggang olah raga atau tempat seni budaya. Di pelosok desa masih berjalan berdiri sang guru mengajar banyak masyarakat dengan rendah hati santun serta berwibawa. Mengajar dan mengembangkan *ILMU TARUNG* yang sangat hebat.
Bisa dimaklumi di zaman *Kerajaan Padjadjaran* hanya anak anak kerabat kerajaan dan para menak yang dipilih untuk belajar sampai menjadi petarung yang sangat tangguh. Melatih kekuatan kecepatan memukul dan kuda kuda kaki menjadi isi dari Ilmu Beladiri. Dimana dengan sangat cepat mampu mengalahkan lawan tanding.

*Husein Rizal* di Bogor adalah Anak Bungsu dari Bapak *Adung Rais Alkatiri* pemilik gelar *SATRIA GELANGGANG WISESA dan cucu asli dari *Abah Salim Alkatiri* Sesepuh dan Tokoh Pendekar ilmu tarung MAENPO.

Di Bogor Bapak Rizal yang dimana hadir membangun serta mengajar *ILMU TARUNG yang masih asli dari PENCAK MAENPO* Selama 20 tahun mengajar Bapak Rizal di Bogor telah mengasah sangat banyak para murid jiwa dan mentalnya dari berbagai wilayah baik dari banten jakarta atau jawabarat. Dimana mereka para murid agar bisa membawa ILMU TARUNG ini dan mengajar kembali kelak pada masanya.

ILMU BELA DIRI MEMUKUL dengan ragam trik ampuh kingkilaban memang tidak ada di perguruan manapun karena memiliki cara perpaduan antara jurus *MADI KARI SABANDAR.* hanya ada pada SILAT MAENPO PEUPEUHAN.

*Sejarah Maenpo*
Maenpo adalah ilmu bela diri yang berasal dari Jawa Barat. Kata maenpo berasal dari istilah maen nu tara mere tempo yang berarti permainan yang tidak pernah memperlihatkan bentuknya kepada lawan. Sedangkan maenpo yang menitikberatkan pada permainan pukulan (meupeuh), dinamakan Maenpo Peupeuhan.

ILMU TARUNG yang sudah ratusan tahun dimasa Kerajaan Padjadjaran Maenpo diperkenalkan pertama kali pada pertengahan abad ke-19 oleh pendekar pencak yang bernama *Mohammad Kosim,* yang terkenal juga dengan sebutan *Mama Sabandar.* Beliau mengembangkan cikal-bakal teknik dan jurus dasar yang kini digunakan dalam Paguron Maenpo Peupeuhan. Tidak sedikit yang datang kepada Mama Kosim untuk diangkat menjadi murid. Namun hanya beberapa orang saja yang ia terima, karena beliau takut bela diri ini disalahgunakan.

Sepeninggal Mama Kosim, ilmu bela diri ini diteruskan oleh tokoh-tokoh maenpo, diantaranya adalah Rd. H. Enoh, Rd. H. Emod, Rd. H. Abdullah, Bapak Da’i, Rd. Thoha, Bapak Acep Tarmedi, dan Abah Salim. Para pewaris ilmu ini umumnya masih sanak saudara, kerabat dekat, dan keturunan bangsawan Cianjur.

*Pada sekitar tahun 1940 Abah Salim* mulai terbuka dan berani memperkenalkan beladiri ini kepada masyarakat luas. Situasi perang pada masa itu nampaknya menjadi salah satu faktor kondusif munculnya para pendekar dari berbagai aliran silat. *Abah Salim merasa tertantang untuk ikut serta memperkenalkan Maenpo Peupeuhan.*

Usaha tersebut kemudian diteruskan oleh putera beliau, yaitu *Bapak Adung Rais pada sekitar tahun 1970.* Setelah merampungkan ilmu maenpo yang ia pelajari semenjak usia 19 tahun, ia kemudian mengibarkan bendera perguruan yang ia namakan *Babancong Siliwangi.*

*Bapak Adung Rais* menyumbangkan dua hal mendasar yang sangat penting pada beladiri ini, yaitu unsur kecepatan dan penyaluran tenaga melalui teknik pernafasan dalam setiap gerakan Maenpo Peupeuhan. Selain itu, ia juga membuat terobosan dengan memadukan seni pencak Maenpo Peupeuhan dengan kesenian tradisional Tembang Sunda Cianjuran yang lebih dikenal dengan nama Kacapi Suling.

Mengapa diberi nama Maenpo Peupeuhan Adung Rais? Hal ini disebabkan pada sekitar tahun 1980, Maenpo Peupeuhan yang diajarkan oleh Bapak Adung Rais (alm) unik dan berbeda dengan Maenpo Peupeuhan lainnya yang ada. Saat itu, yang menyebut dan memberi nama Maenpo Peupeuhan Adung Rais bukan dari kalangan dalam perguruan, tetapi seorang tokoh Bandung yang terkenal dalam membawa maenpo dari Cianjur ke Bandung, yaitu Gan Ema Bratakusumah.

Satu hal yang cukup banyak disalahpahami oleh banyak orang, bahwa Maenpo Peupeuhan adalah maenpo yang keras. Padahal dalam kenyataannya, pengaruh Madi dan Sabandar yang lembut sangat kental dipakai, jadi tidak hanya pengaruh Kari. Mungkin yang menyebabkan orang-orang menduga Maenpo Peupeuhan memiliki sifat keras adalah akibat pemberian latihan Napel dan Ibing yang diberikan pada akhir pelajaran.
Kini MAENPO PEUPEUHAN di kembangkan oleh anak turunan dan keluarga Bapak Adung Rais serta masih sama dengan ILMU TARUNG pada masa lalunya di Zaman Kerajaan atau di masa MOHAMMAD KOSIM.

Nofis – Bogor

Tinggalkan Balasan