Pembatalan Pelaksanaan Ibadah Haji Perspektif Maqasid As-Syari’ah

Oleh Drs. H. Atus Ludin Mubarok, M.Sy Penyuluh Agama Non PNS Kecamatan Cileunyi Ketua Umum DA’i Kamtibmas Polresta Bandung

Buser Bhayangkara 74

Ibadah Haji merupakan kewajiban Pokok bagi ummat Islam, senantiasa dirindukan dan diharapkan semua kalangan. Di antara dalil yang dijadikan dasar kewajiban haji oleh para ulama adalah surah Ali Imran ayat 97 berikut;

 

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًۭا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ

 

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.

 

Adapun dianatara hadis yang dijadikan dasar kewajiban haji adalah hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah;

 

بُنِىَ الاِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ اَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّ اﷲُ٬ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اﷲِ٬ وَاِقَامِ الصَّلاَةِ وَاِيْتَاءِ الزَّكاَةِ ٬ وصَوْمِ رَمَضَانَ ٬ وَحِجِّ الْبَيْتِ لِمَنْ اِسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلاً

 

“Islam dibangun atas lima perkara; bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadan dan melakukan haji ke Baitullah bagi orang yang mampu melakukan perjalanan ke sana.”

 

Ketika menjelaskan tafsir surat Ali imran ayat 97 , Ibnu Katsir mengutif keterangan dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu,

 

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: مَنْ أَطَاقَ الْحَجَّ فَلَمْ يَحُجَّ، فَسَوَاءٌ عَلَيْهِ يَهُودِيًّا مَاتَ أَوْ نَصْرَانِيًّا، وَهَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ إِلَى عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Bahwa Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu mengatakan, ‘Siapa yang mampu haji dan dia tidak berangkat haji, sama saja, dia mau mati yahudi atau mati nasrani.’

 

Komentar Ibnu Katsir, ‘Riwayat ini sanadnya shahih sampai ke Umar radhiyallahu ‘anhu.’ Kemudian diriwayatkan oleh Said bin Manshur dalam sunannya, dari Hasan al-Bashri, bahwa Umar bin Khatab mengatakan,

 

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنَّ أَبْعَثَ رِجَالًا إِلَى هَذِهِ الْأَمْصَارِ فَيَنْظُرُوا كُلَّ مَنْ كَانَ لَهُ جَدَّةٌ فَلَمْ يَحُجَّ، فَيَضْرِبُوا عَلَيْهِمُ الْجِزْيَةَ مَا هُمْ بمسلمين، ما هم بمسلمين

Saya bertekad untuk mengutus beberapa orang ke berbagai penjuru negeri ini, untuk memeriksa siapa diantara mereka yang memiliki harta, namun dia tidak berhaji, kemudian mereka diwajibkan membayar fidyah. Mereka bukan bagian dari kaum muslimin mereka bukan bagian dari kaum muslimin.

(Tafsir Ibnu Katsir, 2/85)

 

Betapa beratnya siksa yang diancamkan bagi orang yang telah mampu tetapi tidak melaksanakan ibadah haji. Minimal memiliki cita-cita untuk melaksanakannya adalah sudah termasuk kebaikan.

 

Idealnya 26 Juni 2020 kelompok terbang pertama sudah harus di berangkatkan dari negara kita, jika dalam situasi normal. Pandemi covid 19 yang menjadi pandemi dunia membuat keadaan berbeda dan tidak berjalan normal seperti apa adanya.

 

Terbitnya Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 494 tahun 2020 tentang Pembatalan Keberangkatan Jamaah Haji pada Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1441H/2020M,” membuat kurang lebih 221,000 calon jama’ah haji batal berangkat. Pro dan kontra pasti terjadi, rasa kecewa juga pasti ada, tetapi sebagai muslim kita wajib percaya akan ketetapan Allah swt, karena di dunia ini tidak ada sesuatupu pun yang sifatnya kebetulan tetapi sudah di tetapkan Allah swt. Apalagi alasan kementerian agama sangat logis, kebijakan ini diambil karena Pemerintah harus mengutamakan keselamatan jemaah di tengah pandemi Corona Virus Disease-19 (Covid-19) yang belum usai.

 

“Sesuai amanat Undang-undang, selain mampu secara ekonomi dan fisik, kesehatan, keselamatan, dan keamanaan jemaah haji harus dijamin dan diutamakan, sejak dari embarkasi atau debarkasi, dalam perjalanan, dan juga saat di Arab Saudi,” jelasnya.

 

Menag menegaskan bahwa keputusan ini sudah melalui kajian mendalam. Pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia dan Arab Saudi, dapat mengancam keselamatan jemaah. Agama sendiri mengajarkan, menjaga jiwa adalah kewajiban yang harus diutamakan. Ini semua menjadi dasar pertimbangan dalam menetapkan kebijakan.Kemenag telah melakukan kajian literatur serta menghimpun sejumlah data dan informasi tentang haji di saat pandemi di masa-masa lalu.

 

Bukan kali ini ibadah haji tidak diselenggarakan, jangan kita terjebak dalam politisir sebagian orang karena pada sejarahnya haji dibatalkan atau haji diselenggarakan dengan jumlah jamaah sangat rendah sebanyak 40 kali. Pembatalan haji yang paling masyhur terjadi pada abad ke-10 M atau ke-3 H, setelah sekte Qaramithah mengambil alih Masjidil Haram. Sekte Qaramithah berbasis di Arab timur dan mendirikan negara mereka sendiri di bawah Abu Taher al-Janabi. Sistem kepercayaan mereka didasarkan pada Islam Syiah Ismailiyah yang bercampur dengan unsur-unsur gnostik.

 

Mereka menganggap ibadah haji adalah ritual pagan. Karenanya, mereka—di bawah komando Abu Taher- melancarkan serangan ganas ke Makkah selama musim haji pada 930. Dalam serangan itu, mereka membunuh 30 ribu jamaah dan membuang jasad mereka ke sumur zamzam.

 

Mereka kemudian mengambil Hajar Aswad dan membawanya ke basis kekuasaan mereka, Hajar (Bahrain). Selama 10 tahun setelah kejadian itu ibadah haji dibatalkan. Sebelumnya, pada 865 M, Ismail bin Yusuf yang dikenal dengan al-Safak memimpin pemberontakan melawan Dinasti Abbasiyah.

 

Pada saat itu, al-Safak membantai jamaah haji yang tengah berkumpul di Gunung Arafah. Kejadian ini memaksa pembatalan haji. Pada tahun 1000 M, pembatalan haji disebabkan karena alasan yang sederhana, yaitu meningkatnya biaya perjalanan haji. Pada 1831 M, wabah dari India membunuh hampir tiga perempat dari total jamaah haji.

 

Fakta lain antara 1837-1892, infeksi menyebabkan ratusan jamaah meninggal setiap harinya. Dalam sejarahnya, infeksi kerapkali menyebar selama musim haji. Sebelum zaman modern, hal ini jauh lebih menjadi masalah dari pada hari ini. Karena, ribuan jamaah berkumpul bersama dengah jarak yang begitu dekat, sementara perawatan—untuk penyakit yang terkadang mematikan—tidak memadai.

 

Didapatkan fakta bahwa penyelenggaraan ibadah haji pada masa terjadinya wabah menular, telah mengakibatkan tragedi kemanusiaan di mana puluhan ribu jemaah haji menjadi korban. Tahun 1814 misalnya, saat terjadi wabah Thaun, tahun 1837 dan 1858 terjadi wabah epidemi, 1892 wabah kolera, 1987 wabah meningitis.Pada 1947, Menag Fathurrahman Kafrawi mengeluarkan Maklumat Kemenag No 4/1947 tentang Penghentian Ibadah Haji di Masa Perang.

 

Selain soal keselamatan, kebijakan diambil Kementerian Agama karena hingga saat ini Saudi belum membuka akses layanan Penyelenggaraan Ibadah Haji 1441H/2020M.), sementara untuk kesuksesan penyelenggaraan ibadah haji butuh persiapan yang matang dan menjamin jama’ah terlayani dengan baik.

 

Sebagai insan yang beriman wajib meyakini bahwa musibah yang terjadi sesungguhnya telah ditetapkan Allah sejak di lauh al-mahfud sebagaimana firman-Nya

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ ٢٢

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (QS. Al-Hadid : 22)

 

Musibah dan apapun yang terjadi didunia ini mustahil terjadi tanpa ijin dari Allah SWT,

sebagaimana firman-Nya.

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ١١

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

(QS, at-Taghabun : 11).

 

Dalam situasi normal pergi ketanah suci pada bulan-bulan haji baru dapat pahala ibadah haji, saat ini dalm situasi Pandemi covid 19, walau pisik kita tidak berada di tanah suci insya Allah pahala dan keberkahan atas niat kita akan Allah balas berlipat. Sebagai mana Rasulullah SAW bersabda.

 

عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم أنها أخبرتنا أنها سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الطاعون فأخبرها نبي الله صلى الله عليه وسلم أنه كان عذابا يبعثه الله على من يشاء فجعله الله رحمة للمؤمنين فليس من عبد يقع الطاعون فيمكث في بلده صابرا يعلم أنه لن يصيبه إلا ما كتب الله له إلا كان له مثل أجر الشهيد

“Dari Siti Aisyah RA, ia mengabarkan kepada kami bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW perihal tha‘un, lalu Rasulullah SAW memberitahukannya, ‘Zaman dulu tha’un adalah siksa yang dikirimkan Allah kepada siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Tiada seorang hamba yang sedang tertimpa tha’un, kemudian menahan diri di negerinya dengan bersabar seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan mengenainya selain karena telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid,’” (HR Bukhari).

 

Berbicara hukum islam di ketahui adanya kaidah fikih, dalam situasi tidak normal seperti sekarang ini maka dapat digunakan kaidah fikih yang berkaitan. Dalam kaidah fikih pokok disebutkan.

اَلضَّرَرُ يُزَالُ

Kemadaratan itu harus dihilangkan

Melaksanakan Shalat berjama’ah di masjid, merapatkan barisan dan bersalaman adalah amal baik yang dapat menguntungkan, tetapi kita tidak tahu apakah dalam kerumunan itu ada yang terpapr atau tidak atau sebailknya kita yang memaparkan virus corona kepada orang lain. Maka

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَلِحِ

Menolak kemadaratan lebih utama dari pada mendatangkan kemaslahatan

دفع المفاسد مقدم على جلب المصالح

Menolak mafsadah (kerusakan) didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.

إِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَصَالِحُ قُدِّمَ اْلأَعْلَى مِنْهَا وَإِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَفَاسِدُ قُدِّمَ اْلأَخَفُّ مِنْهَا

Jika ada beberapa kemaslahatan bertabrakan, maka maslahat yang lebih besar (lebih tinggi) harus didahulukan. Dan jika ada beberapa mafsadah (bahaya, kerusakan) bertabrakan, maka yang dipilih adalah mafsadah yang paling ringan

Tujuan hukum sebagaimana di jelaskan As-Syathibi menyebutnya dengan istilah Maqashid al-Khamsah, jika dikorelasikan dengan peringkat ashl hukum menurut al-Juwaini, maka bisa disusun sistematika berikut:

a) Hifdz ad-Din (memelihara agama) memiliki tiga tingkatan

Dhoruriyat, yaitu kebutuhan yang esensial bagi kehidupan manusia. Contoh: Menjalankan sholat lima waktu, menjalankan Ibadah aji dll.

Hajjiyat, yaitu Kebutuhan yang dapat menghindarkan manusia dari kesulitan dalam hidupnya. Contoh: Shalat Jama’ Qashar, contoh badal Haji atau penghentian Haji dalam masa wabah.

Tahsiniyat, yaitu kebutuhan yang menunjang peningkatan martabat dalam masyarakat dan di hadapan Tuhannya, sesuai dengan kepatuhan. Contoh: menutup aurat.

 

b) Hifdz an-Nafs (memelihara jiwa)

Dhoruriyat, contoh: memakan bangkai dalam keadaan terpaksa, dana talang Haji

Hajjiyat, contoh: berburu, menikmati makanan halal dan lezat. Membadalkan jumrah dalam haji

Tahsiniyat, contoh: tata cara/ adab makan.Pembatasan Quota sampai pembatalan haji

 

c) Hifdz al-Aql (memelihara akal)

Dhoruriyat, contoh: haramnya minuman keras.

Hajjiyat, contoh: menuntut ilmu

Tahsiniyat, contoh: menghindari mengkhayal/ sesuatu yang tidak berfaedah.

 

d) Hifdz an-Nasl / an-Nasb (memelihara keturunan)

Dhoruriyat, contoh: disyariatkan nikah dan haramnya zina.

Hajjiyat, contoh: menyebutkan mahar pada waktu aqad.

Tahsiniyat, contoh: khitbah dan walimah

 

e) Hifdz al-Mal (memelihara harta benda)

Dhoruriyat, contoh: disyariatkannya tata cara kepemilikan harta.

Hajjiyat, contoh: jual beli degan cara salam.

Tahsiniyat, contoh: menghindari tindak penipuan

Kesimpulan kebijakan pembatalan ibadah haji tahun ini bukan pertama kali terjadi, demi keselamatan jam’aah berdasarkan maqasidusyari’ah hal ini tidak salah.

 

Kang Dian