Rasa Kawatir Ibu Rumah Tangga, Pedagang Pada Tutup Usahanya Di Banyak Pasar Rakyat

 

Buser Bayangkara 74,” Rasa kawatir kesulitan mencari sayuran dan kebutuhan lainnya dipasar sering jadi bahan pembicaraan para ibu rumah tangga saat ini karena mendengar informasi karantina di beberapa tempat di tv nasional akan di laksanakan. Juga keadaan semakin banyak perubahan karena semakin banyak pedagang yang melakukan mudik karena kawatir tidak lagi beroprasi Bus antar daerah dan propinsi dengan waktu yang sangat lama.
Mendekati bulan suci Ramadhan biasanya pedagang semakin bertambah banyak yang berjualan tetapi semenjak terjadi wabah CORVID-19 banyak pedagang dipasar yang memilih tidak lagi usaha dipasar dengan rasa kawatir takut tertular

Pasar Sukasari Bogor memang setiap jam 20.00 wib sampai pagi jam 06.00 melaksanakan aktifitas perdagangan dan melayani masyarakat Bogor. Ketika kami menanyakan beberapa pedagang dengan naiknya harga harga beberapa jenis barang apa alasannya maka rata rata mereka menjawab disebabkan karena kelangkaan barang atau berhentinya pemasok barang yang para pedagang butuhkan. Seperti harga bawang yang saat ini terus bergerak naik harganya karena pengiriman dari jawa banyak terhenti atau memang kosong didaerah di sebabkan diborong oleh industri besar. Ketika hal ini terjadi maka harga harga barang tersebut semakin mahal. Perlu perhatian pihak pemerintah yang mampu menjembatani para petani dan para pedagang agar terjadi kesediaan barang dan memudahkan masyarakat dalam mencari dan membeli kebutuhan sehari hari serta harga harga kembali murah seperti sayuran atau bumbu masak juga yang lain lainnya.

Situasi sulit memang terjadi dimana mana dan banyak Warung Nasi memilih tutup berdagang karena mahalnya harga kebutuhan untuk memasak dan menurunnya minat pembeli. Ibu yani menceritakan penurunan pembeli terjadi dari akhir febuari 2020 karena Virus Corvid-19 telah ramai di berita tv nasional dan terlihat banyak pekerja bangunan pulang kampung. Semua pekerja harian di bangunan dihentikan karena kawatir tertular virus. Juga di akhir maret semakin sepi pembeli. Modal ngewarung nasi jadi semakin mengecil karena sebulan bertahan modal tidak lagi bisa kembali utuh.

Mungkin semua kota juga terjadi hal yang sama dengan kondisi seperti ini. Memilih pulang kampung karena takut tertular Corvid-19 apakah sudah bijak atau bertahan di kota sudah sulit mencari kerjaan dan biaya kebutuhan untuk sehari hari sudah sulit.
Walaupun kembali kekampung bukan solusi bagus karena di desa juga sulit mencari penghasilan yang bagus tapi mau gimana lagi ujar pak pepen sebagai tukang bangunan yang mau mudik dengan motornya. Di setiap perumahan biasanya ramai dengan tukang bakso atau mie ayam kini sudah tiada lagi.
Juga yang biasa keliling yang bawa tabung gas dengan motor juga sudah tiada kata bu dian. Saya harus kepasar tiap hari untuk belanja kepasar karena penghasilan suami saya kecil dari ngojek apalagi semakin sepi saat ini karena jarang penumpang. Kadang ngojek dari pagi jam 06.00 sampai malam jam 08.30 hanya dapat uang 30.000 sisa dari beli bensin yang biasanya dapat 150.000 tiap hari. Harapan bu dian kondisi ini jangan sampai lama seperti ini. Kami orang kecil semakin sulit mencari uang untuk biaya hidup keluarga.

Sebagian pedagang juga berharap agar mereka bisa usaha normal dan para pelanggan kembali bergerak usaha lagi.
Banyaknya yang tertular Corvid-19 pagi pedagang dipasar atau tukang ojek pangkalan serta onlin adalah persoalan yang sama beratnya. Diam saja dirumah bisa mati kelaparan ujar kang udin sebagai tukang ojek.

Nopis