Waduk Mini baru dua. Diduga modus sedot dana?

Buser Bhayangkara74 – Air merupakan sumber daya dan faktor penentu yang menentukan sektor pertanian, Indikator penentu dari segi produktifitas dibidang pertanian jangka menengah, di musim kemarau, ladang dan sawah sering kali kekeringan dan sebaliknya di musim penghujan, ladang dan sawah banyak yang terendam air.

Secara khusus, masalah air untuk pertanian Sebagian besar di lahan kering adalah masalah ketidaksesuaian distribusi air antara kebutuhan dan pasokan menurut waktu (temporal) dan tempat (spasial). Lebih rumit dan sulit diprediksi, tergantung pada sebaran, curah hujan di sepanjang tahun, yang sebarannya tidak sama

Teknologi waduk mini atau tandon air merupakan salah satu pilihan yang diajukan karena teknologinya dapat menampung air mikro di lahan pertanian (waduk pertanian kecil) yang dibangun untuk menampung kelebihan air di musim hujan. Air yang ditampung tersebut selanjutnya digunakan sebagai sumber irigasi suplementer untuk budidaya pertanian bernilai ekonomi tinggi (tanaman bernilai tambah tinggi) di musim kemarau agar produktif, yang disebut kolam tempat penampungan air drainase saat kelebihan air di musim hujan dan sumber air di musim kemarau.

Lain halnya seperti Bangunan prasarana yang terpampang Waduk Mini Mikro Hydro di Desa barudua, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, dinilai takbermanfaat disaat musim kemarau dari awal selesainya waduk mini tersebut sampai saat ini. dinilai gagal perencanaan dan merugikan keuangan Negara.

Pembangunan waduk mini yang terdapat di Desa Barudua, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, yang berlabel dari Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura dinilai telantar. Sekeliling bangunan dipenuhi semak belukar, Rerumputan dan pagarnya pun sebagian tidak ada, terlihat bahwa dalam pemeliharaanpun tidak ada.

Melihat kondisi, saat musim hujan debit air dinilai sedikit, Diduga adanya kebocoran,indikasinya kualitas bahan waduk mini sangat rendah sehingga mudah rusak. Terkesan bangunan yang indikasinya berbiaya besar itu kini sia-sia karena tidak bisa dimanfaatkan petani setempat.

Dari sebagian masyarakat dan petani dalam keterangannya, kepada wartawan, memaparkan, waduk mini tersebut telah dikerjakan selama kurang lebih 2 tahun dengan masa anggaran yang taktau besaran anggarannya.serta waduk mini tersebut setelah selesai pembangunan merasa tidak ada manfaat sama sekali. Sumber pun menambahkan, bangunan itu tidak lama setelah selesai dikerjakan sudah rusak. Dan hingga kini bangunan itu tidak bisa dinikmati petani.

Ketika mewawancarai pemerintaham desa terdekat yaitu desa barudua, sekretaris desa, Mengatakan, bahwa waduk tersebut memang setelah selesai pengerjaan tidak pernah ada pemeliharaan dari dinas terkait, serta pernah bocor.

Sekretaris pewarta garut, yudaz menyayangkan anggaran yang begitu signifikan waktu yang terbilang panjang justru tak memberi manfaat apapun terhadap masyarakat sekitar lokasi tersebut.

Faktanya, waduk mini tersebut sama sekali tidak bermanfaat lantaran tidak ada debit air yang tertampung, jangankan musim kemarau, disaat musim penghujan saat ini debit air dinilai sedikit.

Wakil ketua Pewarta kab.garut Yoyo karya pun menambahkan, saat ditanyai ke pemerintahan desa barudua, yang kebetulan diwakilkan oleh sekretaris desa, beliau mengatakan bahwa “pihak bumdes Barudua berencana akan membuat sumur bor di dekat waduk tersebut untuk memenuhi kebutuhan air”jawab sekretaris desa barudua.

Intinya, keberadaan waduk mini tersebut dinilai tidak tepat guna, lebih baik ada program lain yang mampu menopang kebutuhan air bagi penduduk seperti perpipaan atau program sumur bor di sejumlah titik yang mudah dijangkau ketimbang membangun waduk mini dengan biaya besar namun tak bermanfaat.

Pihak Dinas Pertanian Kab. Garut yang ingin diminta keterangan seputar waduk mini di desa Barudua tersebut, karena situasi Lockdown dan Social Distarching tidak berhasil ditemui, sementara sirkulasi dan fungsi pengairan di masyarakat harus tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Bambang Kabiro Garut